Mempertanyakan Hukum Umrah Backpacker

Posted on Posted in Artikel

ilustrasi umrah

Oleh: Febi Martawardaya*

Mendekati Ramadhan, banyak  pertanyaan dan permintaan tentang umrah backpacker, mungkin karena maraknya tawaran dari travel tentang program tersebut.

Sebelum kita mencoba menjawab mari kita dudukkan dulu bersama pengertian backpacker.

Menurut Wikipedia, backpacker adalah “Wisata beransel (bahasa Inggris:backpacking), yaitu melakukan perjalanan ke suatu tempat tanpa membawa barang-barang yang memberatkan atau membawa koper. Adapun barang bawaan hanya berupa tas yang digendong, pakaian secukupnya, dan perlengkapan lain yang dianggap perlu. Tidak perlu tidur di hotel tetapi cukup di suatu tempat yang dapat dijadikan untuk beristirahat atau tidur. Perjalanan seperti ini dilakukan di dalam negeri ataupun di luar negeri.”

Dari pengertian diatas, jelas backpacker sulit diterapkan dalam umrah jika mengikuti aturan dubes saudi (KBSA) karena visa umrah dikeluarkan jika memenuhi syarat tiket dan surat reservasi hotel, juga ditambah aturan dari Kemenag dalam Pakta Integritas Provider Visa, silahkan buka link: http://www2.kemenag.go.id/berita/238943/ini-butir-pakta-integritas-ppiu-sebagai-provider-visa

Ketika kita tiba di bandara KSA maka pihak travel akan melaporkan kedatangannya ke muassasah (perusahaan pegelola visa di KSA) kemudian petugas muassasah akan menanyakan beberapa pertanyaan diantaranya dimana hotelnya?, ini merupakan aplikasi dari persyaratan dikeluarkan visa dan pencegahan terlantarnya jamaah di KSA, setibanya di Mekkah/Madinah datang lagi petugas muassasah memastikan jamaahnya mendapatkan kamar. Maka bagaimana kita mau melakukan backpacker?.

Ada yang menjawab dengan santai “saya bisa.”

Jawaban seperti itu sama dengan ungkapan “saya nyetir mobil tanpa sim dan STNK dan masuk jalur Busway pun bisa.” Tapi, apakah cara demikian bisa dibenarkan secara syariat?, atau , minimalnya, ada syubhat?

Hal lain yang muncul diluar nalar, para peserta umrah backpacker biasa sewa 1 kamar hotel isi 4 kasur namun diisi 10-15 orang. Yang demikian, apakah mereka mengelabuhi pihak hotel?, karena manajemen dilanggar.

Ada yang beralasan, “saya I’tikaf di Masjidil Haram, tidak butuh hotel untuk menginap.”

Kenyataannya, saya punya kawan yang urus hotel di tanah suci, merasa deg-degan dan bahkan melakukan tindakan kucing-kucingan agar tidak ketahuan oleh karyawan hotel.

Alasan lain dari umrah backpacker adalah karena harganya yang sangat murah, jika dibanding umrah biasa. Padahal dalam hal ini Kemenag mematok harga minimal USD 1700 pada tahun 2014. Lihat linknya disini: http://haji.kemenag.go.id/v2/content/standar-minimal-biaya-umrah-1700-dolar

Bayangkan, Ramadhan biasanya semua Hotel menaikkan ratenya 7 -10 kali lipat, logika bisnis jika pihak hotel menaikkan setinggi itu apakah mau pihak hotel kamar isi 4 kasur nya dipake ramai-ramai?.

Pihak hotel menaikkan tarif setinggi itu, karena untuk menutupi kekosongan kamar di bulan syawal  lantaran visa umrah tutup menjelang musim haji, demikian informasi dari kawan yang mengurus hal ini disana.

Mestinya,selain ibadah dilakukan sesuai sunnah, semoga kita juga taat sesuai aturan dalam bermuamalah. insyaAllah lebih berkah.

Kalau ditanya bagaimana hukumnya dalam Islam?, biarlah para ulama yang memberikan fatwa.

*Penulis adalah manajer Proin Travel Umrah dan Haji

 

Diliput oleh GEMAISLAM.COM