BEBERAPA PERSIAPAN SEBELUM BERANGKAT UMRAH (BAGIAN KEDUA)

Posted on Posted in Artikel

*BEBERAPA PERSIAPAN SEBELUM BERANGKAT UMRAH (BAGIAN KEDUA)*

Oleh : Ust.Hamzah Abbas Lc.

Pada bagian persiapan pertama sebelum berangkat umroh sdh dijelaskan beberapa persiapan diantaranya : Ikhlash & Taubat an Nashuuha.

✈ Dan berikutnya….

*_Sabar_*

Biasakan sabar dan menahan diri dalam melakukan safar, dan khususnya safar kita ke *al Haramain ini yaitu Masjidil Haram & Masjid Nabawiy*

Saudaraku…

Ketahuilah bahwa safar untuk ibadah umroh tidaklah mudah, safar menuju Baitullah Al haram memerlukan waktu yang tidak sebentar, belum lagi kendala-kendala yang ditemukan seperti di tundanya keberangkatan, kemudian terkadang kita temukan antrian panjang di imigrasi yang cukup melelahkan, kemudian ketika melaksanakan ibadah umroh membutuhkan kurang lebih 2 – 3 jam, berdesakkan ketika thawaf dan sa’i, cuaca di Arab Saudi yang kurang bersahabat dengan kita, serta kendala-kendala lain yang membutuhkan kesabaran.

Benarlah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ketika beliau bersabda 15 abad yang lalu:

«عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: «السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ »
Dari Abu Hurairah semoga Allah meridhainya dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau bersabda : “Safar adalah bagian dari adzab, karena ia menghalangi seseorang dari makan, minum dan tidur yang biasa ia lakukan”. (Hadits Riwayat Bukhari (1804) dan Muslim (1927))

Maksud hadits tsb diatas demikianlah kondisi seseorang ketika sdg safar, banyak kesulitan – kesulitan yg dihadapi baik ktk diruang tunggu, didalam kendaraan dan lain sebagainya, hal ini membuat kita lelah, dan kelelahan – kelelahan ini yg dimaksud hadits tsb diatas *safar itu bagian dari adzab*.

Maka dalam hal ini kesabaran kita benar-benar di uji, dan sebagai balasannya Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan pahala yang besar bagi mereka bersabar.

Allah Ta’ala berfirman

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ (10)

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.
( Surat Az zumar, 39 ayat 10)

Dari ayat diatas Allah akan membalas orang – orang yg selalu bersabar dengan pahala yang berlipat – lipat ganda tanpa batas (tak terhingga hitungannya).

Oleh karenanya rugilah kita, jika kita tdk mau bersabar disaat kita melakukan perjalanan(safar) apalagi safar kita ini menuju *baitullah*

Maka….

Latihlah diri kita untuk selalu bersabar selama kita melakukan perjalanan safar wahai saudara – saudariku yang kucintai karena Allah.
Dan semoga kita termasuk orang – orang yang sabar.aamiin.

*Menunaikan hutang dan amanah*

Sebagaimana disebutkan sebelumnya tidak ada di antara kita yang tahu kapan maut menjemput kita, sedangkan ibadah umroh yang kita lakukan cukup menyita waktu, uang dan tenaga, sebelum berangkat hendaknya kita memastikan telah melunasi hutang dan amanah yang ada pada kita, ingat perkara hutang ini bukanlah perkara ringan, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sampai-sampai tidak mau menshalatkan/menyolatkan seseorang yang telah meninggal dalam kondisi masih terikat dengan hutang, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits yang shahih berikut:

«عن جابر بن عبد الله قال: “مات رجل، فغسلناه وكفناه وحنطناه، ووضعناه لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – حيث توضع الجنائز، عند مقام جبريل، ثم آذنا رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بالصلاة عليه فجاء معنا خطى، ثم قال: “لعل على صاحبكم دينا”. قالوا: نعم. ديناران، فتخلف، قال : صلوا على صاحبكم ، فقال له رجل منا يقال له أبو قتادة: يا رسول الله هما عليّ، فجعل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول: “هما عليك وفي مالك والميت منهما برىء” فقال: نعم. فصلّى عليه، فجعل رسول الله – صلى الله عليه وسلم – إذا لقى أبا قتادة يقول: “ما صنعت الديناران؟ ” حتى كان آخر ذلك قال: قد قضيتهما يا رسول الله، قال: “الآن حين بردت عليه جلده”»

Dari Jabir bin Abdillah, beliau berkata : Seorang laki-laki meninggal dunia, kami mandikan dia, kami kafani dan kami letakkan untuk Rasulullah sebagaimana layaknya jenazah di letakkan (untuk di sholati) di maqam jibril, kemudian kami minta kepada Rasulullah untuk menyolatinya, ketika beliau datang bersama kami, setelah beberapa langkah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bertanya : “apakah teman/sahabat kalian (yang meninggal ini) punya hutang ? para sahaabat menjawab :” Ya, hutangnya sebesar 2 dinar”, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mundur dan berkata: “sholatlah kalian untuknya”. Seorang laki-laki diantara kami yang bernama abu qatadah berkata : “wahai Rasulullah dua dinar itu aku yang menanggungnya”, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada Abu Qatadah :” dua dinar itu engkau yang tanggung, engkau bayar dari hartamu dan si mayyit terbebas dari nya ?” Abu Qatadah menjawab :”ya”. Maka Nabi menyolati orang tersebut, setelah itu setiap kali Rasulullah Shallallahhu alaihi wa sallam bertemu dengan abu qatadah beliau selalu bertanya : “apakah 2 dinar itu sudah dibayar?, sampai akhirnya abu qatadah berkata kepada Nabi : “Aku telah membayarkannya wahai Rasulullah”, lalu Nabi bersabda : “sekarang telah dingin kulitnya”. (Hadits riwayat Al Hakim (2/58), Al Baihaqi (6/74-75) dan Ahmad (3/330) dan di shahihkan Al Albani dalam kitab Al Janaiz, halaman 16.)

✍ Makna hadits diatas:

Bahwasanya seseorang meninggal dlm kondisi masih ada hutang menyebabkan Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam enggan menyolatinya.

Dan ini merupakan kerugian yg sangat besar bagi kita, mengapa demikian…? Krn ktk kita dishalatkan apalagi dishalatkan oleh Rasulullah maka kita akan mendapatkan kebaikan yg banyak, diantaranya do’a – do’a yg baik buat kita wahai saudara – saudariku.
Maka tunaikanlah hutang – hutang dan amanah – amanah kita sebelum kita melakukan safar.
Semoga kita termasuk orang – orang yang selalu menunaikan amanah.

*Berwasiat kepada keluarga*

Saudara – saudariku yang dirahmati Allah…

Sebelum kita berangkat safar, hendaknya tidak lupa kita berwasiat kepada keluarga, dan di antara wasiat penting adalah agar mereka bertaqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, ketahuilah wahai saudara – saudariku, taqwa adalah wasiat Allah Ta’ala dan wasiat Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, Allah Ta’ala berfriman seraya mewasiatkan kepada seluruh manusia :

«وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ»
“dan sungguh Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kalian dan (juga) kepada kalian, bertakwalah kepada Allah”. (Surat An Nisaa (4) ayat 131)

Begitu juga Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bersabda seraya berwasiat kepada para sahabatnya :

«أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ»
“Aku wasiatkan kalian untuk bertaqwa kepada Allah Azza wa Jalla”. (Hadits riwayat Abu Dawud (4607) dan At Tirmidzi (2676))

Dari firman Allah dan Sabda Rasulullah diatas….

Allah & RasulNya memerintahkan kepada kita yg ingin melakukan perjalanan jauh(safar) untuk berwasiat kepada keluarga yg kita tinggalkan.
Dan wasiat yg diperintahkan adalah tetang ketaqwaan kepada Allah, dan boleh berwasiat kepada keluarga tentang kebaikan – kebaikan lainnya.

Semoga bermanfaat Oleh : Hamzah Abbas Lc

……….. bersambung ………..